MasukRaina bangun dengan perasaan bahagia. Hari ini hari pertama dia bekerja kembali. Satu hal yang dia tunggu, dia akan bertemu Tama kembali di rumah sakit. Wajah Raina langsung memerah hanya dengan memikirkannya saja. Dia berdandan sedikit berlebihan dibanding biasanya. Ibu dan Ayah sedikit bingung melihat penampilan anak gadisnya pagi ini. Tapi mereka memutuskan untuk tidak berkomentar, kedua orang paruh baya itu hanya saling melempar pandang sambil tersenyum. Orang tuanya senang, setelah Raina berbaikan dengan Tama, anak gadisnya itu jauh lebih ceria. Tidak murung seperti dulu.
"Yah, Bu, Nana berangkat ya" pamit Raina setelah sarapan pagi. Hari ini dia sengaja menolak ajakan untuk pergi bersama dengan Tama, Raina ingin lebih dulu sampai. Ada banyak tempat yang ingin dia kunjungi di rumah sakit. Lagipula, hubungannya dengan Tama masih sedikit kikuk, Raina belum merasa nyaman untuk bisa dekat lagi seperti dulu.
Di poliklinik, Bella sudah menunggu Raina. Dia sudah mempersiapkan hari ini sejak lama. Ada dua tujuan dia kembali ke Indonesia. Ayahnya dan Tama. Dua pria yang ingin dia bahagiakan dalam sisa hidupnya. Sejak Bella tahu Tama dan Raina sedang dekat, dia sudah ingin sekali menemui Raina. Dia hanya ingin memastikan sesuatu dengan Raina. Lamunan Bella terhenti saat melihat sosok Raina di pintu depan poliklinik.
"Kak, permisi sebentar" Bella berusaha memanggil Raina.
"Ya?" tanya Raina, keningnya berkerut memandangi wajah Bella, seolah mencari tahu siapa gadis cantik dihadapannya itu. Wanita itu akrab sekali langsung memanggilnya dengan "Kak".
"Perkenalkan, saya Bella." Bella mengenalkan diri. Dia menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman sambil tersenyum. Raina membalas uluran tangannya.
"Saya mantan tunangan Bang Tama." lanjut Bella lagi.
"Oh.." Raina terkejut, dia bingung harus membalas apa. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan tunangan Tama dulu.
"Saya ada perlu dengan Kakak, boleh kita mengobrol sebentar, mungkin sekalian sarapan pagi, apa boleh?" pinta Bella. Raina tidak menjawab.
"Hanya sebentar, ada hal penting yang ingin saya sampaikan" sambung gadis itu lagi, saat menangkap wajah enggan dari Raina.
"Oke, kebetulan saya sudah sarapan, saya hanya punya waktu sebentar, karena hari Senin biasanya sangat ramai" jawab Raina, perasaannya tidak enak saat menerima ajakan Bella ini, tapi dia juga tidak sampai hati untuk menolak.
"Aku janji tidak akan sampai 30 menit" ucap Bella.
Mereka menuju kantin rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari poliklinik.
"Kakak mau pesan apa? Minum barangkali?" tanya Bella.
"Tidak usah" jawab Raina sambil menggelengkan kepala.
"Oke, aku pesan makanan dulu ya" jawab Bella. Raina mengangguk dengan sabar.
"Ada apa?" tanya Raina, setelah Bella kembali ke tempat duduknya, selesai memesan makanan.
"Aku masih suka sama Bang Tama." jawab Bella tanpa ragu-ragu. Raina sedikit tertegun, ternyata ini alasan perasaan sebelumnya yang tidak enak, batin Raina dalam hati.
"Aku sengaja kembali ke Bandung, bukan hanya untuk Papa, tapi juga untuk merebut Tama kembali. Aku tahu Tama sudah suka ama Kakak sekarang, tapi aku nggak mau mengalah aku akan coba buat merebut hati Tama kembali, jadi aku mau bilang sama Kakak kalau aku ingin bersaing secara sehat untuk merebut kembali Tama. Aku akan upayakan segala hal untuk mengambil Tama kembali" sambung Bella lagi, dengan wajah serius.
Raina terdiam. Bola matanya melebar. Dia nyaris tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Baru kali ini Raina menemui seorang wanita yang berbicara secara terang-terangan mengenai perasaannya. Ini belum pernah dia alami sebelumnya. Apalagi ini kali pertama mereka bertemu. Raina sempat terpaku beberapa saat, lalu setelah itu dia tertawa pelan. Sementara itu gadis yang duduk didepannya mengernyitkan keningnya, pertanda bingung. Dia heran mengapa Raina tertawa setelah mendengar apa yang ia ucapkan. Apa yang salah, pikir Bella.
"Kenapa Kakak tertawa?" tanya Bella dengan wajah bingung.
Raina masih tertawa tapi dalam hatinya merasa kesal sedih dan bingung bagaimana untuk menghadapi apa yang terjadi saat ini. Dia saat ini sebenernya menertawakan hidupnya, atau kehidupan percintaannya lebih tepatnya. Terlalu penuh dengan drama. Dia baru saja hendak menerima Tama sedikit demi sedikit, tapi lalu ada kejadian seperti ini.
Melihat Raina masih tertawa, Bella menjadi kesal. Di lain pihak, Raina mulai menyadari perubahan air muka Bella akhirnya dia berhenti tertawa setelah beberapa saat. Dia mencoba menahan semua perasaannya. Raina menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosinya.
"Bella. Aku ini udah tua, umur aku sudah 34 tahun. Bersaing untuk mendapatkan seorang laki-laki sudah bukan hal yang tepat di usiaku yang seperti ini," ucap Raina sambil tersenyum, tapi raut sedih terpancar jelas di wajahnya.
"Lebih baik aku mundur" lanjut Raina lagi, masih tersenyum.
"Terserah kamu mau kembali pada Tama, aku tidak perduli, aku sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti ini. Aku bukan cari pacar, aku cari orang yang bisa hidup sama aku selamanya, sampai tua. Tidak perlu merebut Tama dari aku, kamu boleh miliki dia" ucap Raina. Dia mencoba membuat air mukanya setenang mungkin. Bella tersenyum senang mendengar kalimat Raina.
"Terimakasih Kak" balas Bella, bahagia.
"Kalau udah enggak ada yang mau disampaikan lagi, aku mau pergi, masih banyak kerjaan" ucap Raina, mengambil tas tangannya.
"Tidak ada, hanya itu yang mau aku sampaikan pada Kakak" jawab Bella menggeleng. Dia sudah merasa puas dengan jawaban Raina.
"Aku pamit, senang berkenalan dengan kamu" ucap Raina lagi, bangkit dari duduknya dan beranjak keluar. Pikirannya kusut. Pagi ini moodnya langsung berubah.
Tama datang sekitar satu menit setelah Raina pergi, dia bingung, karena hanya mendapati Bella disana. Padahal sebelumnya, Raina dikatakan pergi kesini untuk sarapan bersama Bella oleh perawat di poliklinik. Hati Tama langsung cemas mendengar Bella menemui Raina. Tama tahu sifat Bella yang keras dan sedikit ambisius. Wanita itu akan melakukan apa saja untuk mencapai atau mendapatkan apa yang dia inginkan. Semenjak Bella kembali, Tama sudah sering dilanda kecemasan. Dia bisa melihat kalau Bella kembali bukan hanya untuk ayahnya.
"Raina mana?" tanya Tama langsung.
"Udah pergi" jawab Bella, tenang.
"Ayo duduk, aku tadi udah pesan makanan buat kamu, Bang" lanjut Bella lagi. Meminta Tama untuk duduk dihadapannya.
"Aku mau ketemu Raina, dimana Raina? Kamu bilang apa sama Raina tadi?" Tama kembali bertanya. Hatinya mulai curiga, pasti ada yang tidak beres.
"Enggak ada yang aneh kok. Aku cuman terus terang aja, kalau mau kembali sama Abang, aku mau saingan secara sehat sama Kak Raina, buat rebut Abang, tapi setelah denger yang aku bilang, Kak Raina bilang tadi dia mundur, jadi aku bebas buat balik sama Abang. Kita bisa pacaran lagi Bang" jelas Bella dengan tenang. Wajahnya tersenyum.
"Kamu ini kenapa sih Bel? Udah enggak ada lagi kita. Kita udah selesai, aku udah enggak cinta kamu" ucap Tama, mulai kesal. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Bella dengan tenang bisa mengatakan hal itu. Seakan-akan dirinya hanya sebuah barang yang bisa diperebutkan.
"Memangnya aku salah? Lagian, aku tadi kan sudah bilang, aku mau saingan sehat kok, aku bakal coba buat rebut hati Abang lagi" balas Bella. Dia tetap tenang, seakan-akan apa yang dia lakukan sama sekali tidak salah.
"Terserah, aku enggak bakal balik sama kamu, di hati aku cuman ada Raina" balas Tama, dia berbalik pergi. Hanya satu tujuannya sekarang, mencari Raina dan menjelaskan segalanya.
"Na," Tama mengejar Raina. Dia harus segera meluruskan semuanya hari ini.
"Ada apa?" tanya Raina, membalas Tama dengan tatapan dingin. Tapi gadis itu tetap melangkah.
"Tunggu dulu Na" pinta Tama.
"Tam, udahlah. Ini di rumah sakit. Aku lagi malas meributkan masalah pribadi di tempat kerja" balas Raina. Moodnya sudah hancur hari ini. Dia tidak mau mood sepanjang hari ini bertambah buruk.
"Kami salah paham Na. Aku sama sekali enggak tahu kalau Bella...".
"Tam, aku rasa kita memang sebaiknya kita memang hanya sebatas rekan kerja" potong Raina. Gadis itu sudah malas dan bosan dengan semua drama. Hatinya baru saja mencoba berdamai dengan Tama. Tapi ada kejadian ini membuat hati Raina perlahan tertutup kembali. Walaupun sebagian hati Raina tidak menyalahkan Tama.
Tama terkejut dengan kalimat Raina. Dia terdiam.
"Seperti yang aku bilang Tam. Kita berdua sudah terlalu tua. Sudah enggak pantas dengan semua drama kaya gini. Aku hanya mau hidup tenang, kerja tenang," lanjut Raina lagi.
"Na, dengerin dulu" pinta Tama.
"Beresin saja urusan kamu dulu dengan Bella." ucap Raina, gadis itu lalu pergi.
Tama tidak mengejar Raina. Percuma saja, pikir Tama. Raina tidak akan mendengarkan apapun alasan Tama, gadis itu terlalu keras kepala. Tapi dia benar, Tama harus meluruskan semuanya dengan Bella, baru dia kembali mengejar Raina setelah masalahnya dengan Bella selesai.
_____________
Malam ini, Raina terbangun karena dering ponselnya. Raina menatap layar ponselnya, ada nama Tama disana. Buat apa lelaki itu menelpon dirinya malam-malam seperti ini, batin Raina. Dia ragu untuk mengangkat panggilan ponselnya. Tapi ponselnya terus berdering, mau tidak mau Raina akhirnya menjawab panggilan dari Tama. Semenjak kejadian dengan Bella dua hari yang lalu, Raina selalu mencoba menghindari Tama pada kesempatan apapun.
"Ya?" sapa Raina.
"Na, maaf kalau aku mengganggu, tapi aku enggak tahu harus minta tolong siapa lagi, Ayahnya Bella perdarahan saluran cerna, harus segera endoskopi cito (¹), aku butuh asisten, semua perawat asisten endoskopi malam ini enggak ada yang bisa, tolong Na. Anestesi udah oke, aku enggak mungkin kerjain ini sendirian" Tama menjelaskan dengan cepat.
Raina menghirup udara dalam-dalam, memikirkan jawabannya dengan cepat. Kalau boleh jujur, Raina tidak ingin membantu, tapi dia segera mengembalikan kesadarannya. Dia seorang dokter, dan ada pasien yang sedang butuh bantuannya saat ini. Terlalu jahat dan egois kalau Raina lebih mementingkan urusan pribadinya saat ini.
"Ya ok, gue berangkat segera" jawab Raina.
"Aku jeput" balas Tama segera.
"Enggak perlu, gue bisa minta tolong Rendi" tolak Raina. Melakukan endoskopi bersama Tama sudah cukup menyulitkan, jangan sampai dia harus bersama dengan Tama sepanjang perjalanan, pikir Raina.
"Aku udah didepan rumah kamu Na, enggak apa-apa, aku tungguin" ucap Tama lagi.
"Oke" balas Raina lagi, lalu mematikan sambungan telepon. Dia menghembuskan napas kasar, tidak mungkin menolak. Raina mencuci muka, memakai sweaternya dan menyisir rambutnya dengan asal-asalan saja, lalu turun ke bawah.
Tama sudah ada di depan rumah Raina Pria itu menyambut Raina dengan senyuman manis. Raina tidak membalas senyum Tama, dia hanya menatap dengan wajah datar lalu langsung masuk kedalam mobil Tama.
"Makasih Na" ucap Tama, tersenyum sangat manis ke arah Raina, setelah mereka berdua berada didalam mobil.
"Hmm," balas Raina pendek, mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Dia menyandarkan kepalanya di jendela.
"Tidur aja, nanti aku bangunin kalau udah sampai rumah sakit" ucap Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia sudah menutup matanya, tapi tidak tertidur. Dia ingin cepat-cepat berlalu.
Di rumah sakit, Bella dan beberapa anggota keluarganya sudah menunggu dengan wajah cemas. Menurut Tama tadi, sejak malam ayah Bella muntah darah dalam jumlah banyak dan keadaannya tidak stabil sekarang. Terlalu egois kalau Raina menolak membantu Tama untuk melakukan tindakan segera pada Ayah Bella. Raina harus mengenyampingkan perasaan cemburunya.
Sampai di rumah sakit, Raina memilih untuk langsung menuju ruangan tindakan endoskopi, sementara Tama menemui keluarga Bella dulu, untuk memeriksa Ayah Bella, sekaligus untuk menjelaskan kondisi Ayah Bella kepada keluarga besar yang sudah menunggu.
"Aku ke kamar ICU dulu" pamit Tama. Raina hanya menjawab dengan anggukan kepala beberapa kali, gadis itu langsung pergi. Tama menatap punggung Raina dengan perasaan sedih. Gadis itu sekarang selalu menghindar walaupun Raina masih berada disekitarnya. Tama sudah beberapa kali mencoba menjelaskan pada Raina, tapi gadis itu tidak juga mau mendengar.
"Bang Tama" Bella memanggil Tama ragu-ragu. Dua hari yang lalu, Tama marah besar padanya. Tapi Bella hanya punya Tama yang bisa menolong ayahnya dengan segera. Itu sebabnya dia memberanikan diri untuk meminta bantuan pada Tama.
"Ya" balas Tama, dia baru menyadari kalau Bella sudah berada disana sedari tadi.
"Mau tindakan sekarang?" tanya Bella, wajahnya khawatir sekali. Tama mengangguk.
"Aku mau periksa Papa dulu" jawab Tama lagi.
"Aku takut" ucap Bella, air matanya sudah hampir jatuh. Tama terpaksa memeluk gadis itu, mencoba menenangkan. Memberi gadis, yang dulu pernah dia cintai sepenuh hatinya kekuatan untuk tabah menghadapi cobaan, walaupun jujur Tama masih sangat marah dengan apa yang Bella lakukan padanya dua hari yang lalu.
"Jangan takut, Papa pasti baik-baik saja" hibur Tama, dia mengajak Bella berjalan menuju ruangan ICU, tempat ayah Bella dirawat.
Tanpa Tama sadari, dari kejauhan Raina menyaksikan semuanya. Hatinya sakit sekali. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan sedih dan cemburu. Raina menghirup napas sedalam mungkin, mencoba tetap tenang. Dia sendiri yang membuat keputusan untuk melepaskan Tama, dia tidak berhak untuk merasa cemburu melihat Tama dan Bella, batin Raina dalam hati, menguatkan dirinya sendiri. Raina pun kembali menuju ruangan endoskopi. Setelah selesai berganti baju, Raina menunggu sendirian di ruangan tindakan.
"Maaf aku lama ya?" sebuah suara mengejutkan Raina yang sedang sibuk sendiri melamun. Tama sudah berganti baju, Ayah Bella juga sudah ada di ujung ruangan, sedang dipersiapkan untuk mulai tindakan.
"Sudah dari tadi?" tanya Tama lagi. Raina hanya menggeleng, masih terdiam.
"Kita mulai ya" ucap Tama lagi. Raina tetap diam.
Mereka memulai tindakan endoskopi, sekitar 30 menit kemudian, perdarahan saluran cerna Ayah Bella berhasil dihentikan. Keadaannya pun stabil. Tama ikut membantu memindahkan Ayah Bella ke ruangan observasi setelah selesai tindakan. Semua keluarganya bergantian mengucapkan terimakasih kepada Tama. Sementara Raina bergegas berganti baju, dia ingin segera pulang. Raina sudah tidak tahan lagi lama-lama berada disini. Gadis itu berjalan cepat menuju lobi depan rumah sakit, dia sudah meminta tolong Rendi untuk menjemput pulang sebelumnya.
Menyadari Raina tidak ada lagi di ruangan endoskopi, Tama langsung pamit dan mencari Raina. Tama yakin, Raina pasti bertambah marah dan salah paham padanya.
"Na, kenapa langsung pergi?" ucap Tama dengan napas tersengal, lelaki itu baru habis berlari mencari Raina ke lobi depan rumah sakit.
Raina menatap wajah Tama sebentar, lalu mengalihkan pandangannya.
"Iya, mau langsung pulang" jawabnya pendek.
"Aku anter pulang ya?" pinta Tama. Raina langsung menggeleng.
"Udah minta jeput Rendi" jawab Raina.
"Lagipula, Bella lebih butuh kamu disini sekarang.." lanjut Raina pelan, dia memaksakan senyumannya, yang terlihat sangat sedih di mata Tama.
"Na, aku...".
"Ah, Rendi udah datang, gue duluan, sampein salam buat Bella dan keluarga ya, semoga lekas sembuh" potong Raina cepat saat melihat mobil Rendi dari kejauhan. Dia segera berjalan masuk ke dalam mobil tanpa menunggu kalimat akhir yang Tama ucapkan.
Rendi menatap Kakaknya itu dengan perasaan bingung, banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, tapi dia tidak berani berbicara sepatah kata pun, lelaki muda itu hanya mengangguk sopan ke arah Tama sebelum melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah.
"Teh..." Rendi berusaha memulai percakapan. Dia khawatir sekali dengan keadaan Kakak perempuannya itu. Sebelumnya Raina selalu ceria, walau menyebalkan, tapi sejak hubungannya dengan Tama berubah, Raina cenderung pendiam, Kakaknya lebih sering melamun dan jarang tinggal di rumah. Sangat berbeda. Rendi tahu kalau Kakaknya itu merasa sangat patah hati. Sudah berkali-kali Rendi melihat Kakaknya patah hati, tapi kali ini yang paling menyedihkan. Jauh menyedihkan dibanding saat dengan Radit dulu.
"Teteh ngantuk, Teteh tidur ya" potong Raina, memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, menyembunyikan air matanya yang akhirnya jatuh juga. Dia masih belum bisa melupakan perasaannya kepada Tama. Bodoh memang.
"Iya, nanti Rendi bangunin kalau udah sampai ya" ucap Rendi, mengerti kalau Raina tidak mau diganggu lagi. Rendi menyetir pelan sekali, membiarkan Kakaknya tertidur lebih lama di mobil. Sebenarnya dia ingin mencoba membantu hubungan keduanya. Rendi tahu keduanya masih saling menyukai, hanya Raina masih sangat terluka, ditambah kehadiran Bella kembali, menambah rumit hubungan Tama dan Raina.
"Teh udah sampai" panggil Rendi, menepuk pelan punggung Raina.
"Hmmm" sahut Raina, dia keluar dari mobil tanpa menoleh, menyembunyikan air matanya.
"Makasih ya udah jeput Teteh" ucap Raina lagi.
"Iya Teh, mulai sekarang aku siap jadi supir antar jeput teteh setiap hari" canda Rendi, sengaja untuk menghibur Kakak semata wayangnya itu. Raina hanya tertawa pelan.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Rendi, dari Tama. Lelaki itu menanyakan keadaan Raina. Rendi tidak menjawab, biar saja Tama merasa khawatir, walaupun mengidolakan Tama, tapi Rendi juga tidak suka dengan apa yang lelaki itu lakukan pada Kakaknya.
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"
"Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp
Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama
Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal