로그인"Emm.. Tam, sori, boleh dilepas enggak sekarang?" tanya Raina, dia kebingungan dengan sikap Tama seperti ini. Raina sudah mulai tidak nyaman, karena rasanya dia melihat semua orang yang berpapasan dengan mereka langsung memperhatikan. Bahkan tidak jarang yang menggoda atau sekedar batuk-batuk didekat mereka. Tangan Tama masih memeluknya dengan erat, sementara badan Raina masih kaku, kedua tangannya masih disamping badannya, tidak berani bergerak.
"Sebentar lagi" jawab Tama cepat sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak perduli, walaupun sekarang mereka sudah seperti berlakon di film drama romantis.
"Aku enggak enak, kayanya diliatin sama semua orang" ucap Raina lagi. Tama masih diam, tangannya masih tetap memeluk erat Raina. Dia sama sekali tidak berniat untuk melepaskan pelukannya pada Raina.
"Ibu, aku mau cepet ketemu ibu, ibu dirawat dimana?" Raina tiba-tiba teringat ibunya, bagaimana dia bisa cepat bertemu ibu kalau sudah hampir lima menit, rasanya, mereka hanya berpelukan seperti ini. Dia mencoba melepaskan pelukan Tama.
"Ibu?" tanya Tama, bingung. Akhirnya lelaki itu melepaskan pelukannya dari Riana. Mengapa Raina menyangka ibunya sakit dan dirawat, tanya Tama dalam hati bingung. Lelaki itu akhirnya melepaskan pelukannya.
"Iya, ibu, dirawat dimana?" ulang Raina.
"Ibu di rumah" jawab Tama. Dia sama sekali tidak tahu skenario dadakan yang dibuat Radit semalam. Tama hanya tahu Radit meminta dirinya menjeput Raina hari ini. Rendi juga menelponnya pagi ini untuk meminta tolong menjeput Raina, tapi tidak ada sama sekali, baik Radit maupun Rendi yang menceritakan berita tentang ibu Raina sakit. Terakhir dia justru masih melihat ibu Raina sedang menyiram taman di halaman depan rumah Raina kemarin, apa Ibu sakit dan dia tidak tahu, batin Tama, dia bingung dan jadi panik sendiri.
"Kamu jeput aku karena semuanya ada di rumah sakit kan?" tanya Raina lagi.
"Ibu ada di rumah sakit?!" gantian sekarang justru Tama yang terlihat terkejut dan panik saat mendengar informasi baru dari Raina.
"Kok malah nanya, kan kamu yang disini, mana aku tahu gimana yang benernya" balas Raina, mulai kesal. Dia merasa bingung melihat Tama seperti tidak tahu apa-apa.
"Ya udah, ayo kita pulang" ucap Tama, dia mengalah, daripada Raina marah dan hubungan mereka runyam lagi. Tama langsung menarik dan menggenggam telapak tangan Raina. Dia juga memaksa membawakan ransel yang sedang Raina bawa. Raina sama sekali tidak menolak, membiarkan Tama melakukan hal yang ia mau. Hanya satu di benak Raina saat ini, dia hanya ingin segera mengetahui dan bertemu dengan ibunya.
"Kamu enggak lapar? Mau beli makan dulu? Kamu kurus banget sekarang, disana pasti jarang makan" tanya Tama setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Aku cuman mau pulang" tolak Raina, menggelengkan kepalanya. Suaranya pelan, tapi Tama tahu kalau Raina menolak dengan tegas.
"Ah, iya... Maaf, kita pulang ya" balas Tama dengan lembut. Dia mulai menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan Raina tidak berbicara sepatah katapun, tidak seperti biasanya, dia hanya memandang keluar jendela. Perasaannya campur aduk. Di sisi lain, Tama berusaha memahami apa yang terjadi, walaupun banyak pertanyaan muncul di kepalanya.
Setelah 30 menit, mereka berdua akhirnya sampai di rumah Raina. Ibu sedang mengobrol bersama Ayah di teras sambil minum teh bersama.
"Ibu!" panggil Raina.
"Loh, Nana! Kamu kapan pulangnya?" Ibu langsung berlari menyambut Puteri kesayangannya. Dia terkejut sekali melihat Raina tiba-tiba pulang. Mereka berpelukan melepas kerinduan. Baru kali ini Raina benar-benar merindukan "musuh bebuyutannya". Biasanya dia dan ibu sering sekali beradu pendapat atau bertengkar walau hanya karena hal kecil atau tidak terlalu penting.
"Ibu katanya sakit, masuk rumah sakit, ibu enggak apa-apa kan?" tanya Raina, meneliti ibunya dari atas sampai bawah.
"Siapa yang bilang?" tanya Ibu, keningnya berkerut karena bingung. Raina juga jadi kebingungan mendengar pertanyaan ibunya.
"Aku pulang langsung karena kata Radit, ibu lagi sakit dan masuk rumah sakit kemarin" balas Raina.
"Radit? Dia jadi relawan juga? Kamu ketemu sama Radit?" Ibu membalas dengan mengajukan pertanyaan.
"Udah, ayo masuk dulu Bu, Raina. Ibu baik-baik saja Na. Enggak ada yang masuk rumah sakit" lerai Ayah. Pria paruh baya ini juga bingung melihat istri dan putrinya masing-masing saling bertanya dengan raut kebingungan.
"Tama, masuk yuk, kamu mau makan malam bareng?" tanya Ayah.
"Em.. Saya.." Tama ingin berkata iya, tapi dia merasa sedikit malu pada keluarga Raina. Tama yakin Raina pasti sudah menceritakan masalah mereka berdua kepada orang tuanya.
"Ehem, masuk aja Tam, makan malam bareng, kaya biasa" ucap Raina, dia hanya bisa menundukkan wajahnya saat mengucapkan kalimat itu. Ayah dan Ibu juga mengiyakan. Mendengar kalimat Raina dan sikap kedua orang tua Raina, hati Tama langsung berbunga-bunga. Senyumnya langsung merekah.
"Iya, makasih banyak" balas Tama. Dia mengikuti langkah Raina, masuk ke dalam rumah.
_______________________
"Radit, kamu bohongi aku ya?" tanya Raina langsung, setelah Radit menjawab ponselnya. Setelah makan malam dan Tama pulang, Raina mencoba menghubungi Radit. Dia kesal setengah mati. Radit tidak menjawab, tapi dia tertawa terpingkal-pingkal di ujung ponselnya.
"Dit!" ulang Raina lagi, dia bertambah kesal, tapi jujur sangat bahagia didalam hatinya.
"Sorry.. Maaf ya. Anggap aja ini hadiah, karena kita temenan lagi sama karena kamu udah terlalu sering bantuin Kakay setiap Kakay sakit" balas Radit, masih tertawa.
"Tega kamu Dit, aku udah pikir ibu kenapa-kenapa." balas Raina, mulutnya cemberut. Pantas saja Tama bingung sekali saat dia bilang ibu sakit.
"Udah senang kan, ketemu keluarga, apalagi ketemu Tama, ya kan?" goda Radit, lalu lelaki itu tertawa lagi.
"Tsk! Dasar kamu" balas Raina lagi.
"Jangan bohongin hati kamu Na, kalau suka bilang suka. Tama temui aku beberapa hari sebelum aku berangkat. Dia tanya apa perasaan aku sama kamu. Tama lihat aku peluk kamu waktu Kakay sakit. Dia cemburu sekali, tapi dia sebenarnya juga merasa takut kamu bakal suka lagi sama aku. Aku bilang terus terang tentang perasaan aku ke kamu. Tama bilang dia juga enggak main-main sama perasaannya. Akhirnya, aku minta satu kesempatan sama Tama, buat yakinin tentang hubungan kita, Tama setuju, syaratnya, kalau kamu pilih aku, dia akan menjauh dari kamu selamanya, tapi kalau kamu pilih Tama, aku janji aku akan bantu hubungan kamu sama Tama. Aku enggak tahan lihat kamu kaya kemarin, enggak ada semangat. Aku sengaja ikut jadi relawan buat kasih tahu perasaan aku, dan sekalian buat ngegantiin kamu saat aku balikin kamu ke Tama. Anggap aja ini permintaan maaf dan ucapan terimakasih aku dan Kakay untuk kalian berdua. Aku yakin Tama sayang sama kamu Na. Ide cerita ibu kamu sakit itu datangnya dari aku sama Rendi, Tama sama sekali enggak tahu, aku cuman minta Tama jeput kamu siang ini, jangan marah sama dia ya " jelas Radit. Raina nyaris tidak mempercayai kalau ini nyata. Radit membantu dirinya berkali-kali, lelaki itu memang benar-benar sudah berubah, batin Raina.
"Na?" sapa Radit diujung telepon. Dia pikir Raina pasti terlelap.
"Dit, terima kasih banyak" ucap Raina. Malam ini Raina merasa sangat lega dan bahagia.
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"
"Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp
Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama
Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal