MasukDua hari ini, Raina tidak lagi merasa kesepian seperti hari-hari sebelumnya di rumah sakit ini, walaupun kegiatannya padat sekali sebagai relawan, jauh didalam hatinya Raina tetap merasa kesepian, dia rindu Bandung dengan segala isinya. Setelah masalahnya dan Radit terselesaikan, Raina merasakan dia jauh lebih semangat dalam menjalani hari-hari sebagai relawan.
Tidak terasa, sudah lewat 1 Minggu Raina berada di Sulawesi. Pagi ini Radit berangkat ke rumah sakit bantuan di daerah untuk membantu tim dokter disana, kabarnya ada wabah diare di tenda pengungsian. Radit langsung mengajukan diri untuk berangkat. Lelaki itu berubah sekali menjadi jauh lebih baik, batin Raina, merasa senang. Semua berjalan sangat tenang, sampai sore ini, Raina sedang duduk santai sambil minum setelah membantu dapur umum untuk memasak makan malam. Tiba-tiba dia melihat kedatangan Radit ke arahnya. Raina langsung berdiri untuk menyambut temannya itu.
"Na, gawat, aku tadi dapat pesan dari Rendi, ibu kamu sakit" ucap Radit. Napasnya terengah-engah, sepertinya lelaki itu baru saja berlari kencang demi menyampaikan pesan ini.
"Ibu?" ulang Raina, pikirannya mendadak panik dan kalut saat mendengar ibunya sakit. Dia masih belum bisa menghubungi keluarganya karena sinyal komunikasi didaerah ini masih juga belum normal hingga hari ini.
"Iya, Ibu. Tadi di rumah sakit bantuan, kebetulan ada sinyal, aku sempat menyalakan handphone untuk telepon Kayra, lalu ada pesan masuk, dari Rendi, bilang kalau ibu kamu sakit, lagi dirawat, aku langsung " jelas Radit lagi.
Raina menjatuhkan gelas air mineral plastik yang sedang ia pegang. Radit segera menopang tubuh Raina yang tiba-tiba terlihat lemas.
"Na, tenang dulu, ayo duduk dulu ya" ucap Radit, membimbing Raina untuk duduk.
"Sakit apa Ibu?" tanya Raina, air matanya mulai menggenangi kedua pelupuk matanya.
"Aku enggak tahu pastinya, soalnya tadi Rendi tulis pesan singkat banget, cuman tulis kalau minta tolong sampaikan ke kamu kalau ibu masuk rumah sakit kemarin" jelas Radit.
"Aku mau lihat pesannya" pinta Raina.
"Maaf Na, handphone aku habis baterai, tadi aku lumayan lama telponan sama Kakay, nanti kalau generator listrik sudah selesai diperbaiki aku coba charge ya" jawab Radit.
"Gue mesti gimana Dit?" tanya Raina, suaranya bergetar.
"Besok, ada pesawat dari sini ke Bandung. Mereka tadi bilang, mau jeput bantuan logistik dari Bandung, kamu ikut aja ya? Mereka berangkat jam 10 an, aku udah bilang dokter Rio, kamu balik duluan, nama kamu juga udah aku masukkan list buat berangkat ke Bandung besok" ucap Radit.
"Enggak apa-apa Dit?" ulang Raina.
"Enggak apa-apa, kan ada aku yang bakal gantiin, besok kamu ikut berangkat jam 6 pagi ya, mending sekarang beberes barang bawaan kamu ya" balas Radit. Raina mengangguk setuju.
"Makasih banyak Dit" jawab Raina, memegang erat lengan Radit. Lelaki itu tersenyum, lalu membelai sayang puncak kepala Raina.
"Udah jangan nangis, aku yakin Ibu baik-baik aja. Aku udah SMS Rendi tadi, minta jeput kamu kalau udah sampai nanti." ucap Radit lagi. Raina hanya bisa mengiyakan. Dia tidak dapat berpikir jernih sekarang ini.
Semalaman Raina sama sekali tidak bisa memicingkan kedua matanya. Bayangan wajah ibu terus ada di kepalanya. Sakit apa Ibu, pikirnya berkali-kali. Setahu Raina, ibu sangat sehat, sama sekali tidak pernah mengeluh sakit apapun. Raina mencoba mengaktifkan ponselnya. Masih sama, tidak ada sinyal ponsel sama sekali. Raina menangis pelan, dia bingung sekali.
Akhirnya fajar datang juga. Raina sudah tidak sabar menunggu pukul 6 pagi, waktu keberangkatan ke bandar udara. Mereka kembali akan menempuh perjalanan jauh menuju bandar udara.
"Makan dulu sedikit" ucap Radit. Wajahnya khawatir, sedari malam Raina hanya menangis, dia bahkan tidak makan malam kemarin. Raina menggelengkan kepalanya, menolak.
"Enggak lapar" ucap Raina. Dia hanya ingin cepat sampai Bandung.
"Ya udah, hati-hati" ucap Radit.
"Makasih ya Dit" ucap Raina, sebelum pergi.
"Salam buat semuanya ya" ucap Radit, dia melambaikan tangannya.
Raina juga berpamitan dengan semua relawan dan petugas rumah sakit. Semua orang merasa kehilangan hari ini. Tapi mereka semua tidak bisa menahan Raina lebih lama. Waktu berjalan terasa sangat lama bagi Raina. Akhirnya setelah menempuh jalan darat selama 2,5 jam, rombongan sampai juga di bandar udara milik tentara angkatan udara. Pesawat berangkat pukul 10 tepat. Setelah 2 jam lebih, akhirnya mereka mendarat dengan selamat di Bandung. Setelah mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang ada di pesawat. Raina berjalan cepat menuju ruangan tunggu untuk keluarga di luar. Sudah banyak keluarga yang datang untuk menjemput. Sesuai pesan dari Radit, Rendi yang akan menjeput. Raina menyapukan pandangan ke sekelilingnya, dia masih belum menemukan kehadiran adik semata wayangnya itu. Apa Rendi terlambat, tanya Raina dalam hati.
Mata Raina mendadak membulat sempurna saat melihat sosok yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari hadapannya. Bukan Rendi yang dia temukan, tapi Tama. Lelaki itu berjalan semakin mendekat, dia tersenyum dengan manis sekali. Tubuh Raina menjadi kaku. Pikirannya yang awalnya penuh dengan rasa khawatir dengan keadaan ibu, berubah menjadi campur aduk. Dia senang bukan main, tapi juga takut dan sedikit marah pada Tama. Hanya dalam hitungan detik, Tama sudah berdiri tepat di hadapannya, memandangi dengan lekat wajah Raina. Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu langsung menarik Raina masuk ke pelukannya. Dia sepertinya sudah tidak dapat menahan kerinduan pada Raina.
"Tam, lepasin. Malu dilihat orang..., " Raina mencoba protes karena merasa malu dengan kelakuan Tama. Semua orang pasti bisa melihat mereka sedang berpelukan. Raina mencoba melepaskan pelukan itu. Tapi percuma, tenaga Raina sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan tubuhnya dari rengkuhan erat Tama.
"Sssssttt... Sebentar saja. Aku mohon, aku rindu sekali sama kamu, Na" Tama memotong kalimat Raina, mempererat pelukannya. Dia tidak perduli dengan kalimat protes dari Raina, semakin Raina mencoba untuk melepaskan diri, semakin erat pula pelukan Tama. Dia juga tidak perduli banyak mata yang sedang mengamati mereka. Hanya satu yang dia inginkan, memeluk erat wanita yang paling dia rindukan.
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Udah pastiin kan makanan bakal sampe jam 2 teng?" Tanya Tama. Pria itu memegang sebuah kertas checklist khasnya di tangan kiri dan pensil di tangan kanan. Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk."Udah kasih tahu alamat jelasnya? Kemarin kan kita salah jalan tuh, lu udah pastikan mereka enggak salah pilih jalan kan?" Lanjut Tama lagi. Raina kembali mengangguk, mengiyakan."Udah pastikan juga kan tempatnya? Meja prasmanan lumayan gede, belum lagi side dish-nya juga lumayan banyak kan? Semuanya udah cocok tempatnya?" Sambung Tama lagi. Raina tidak menjawab, dia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi matanya sibuk menatap ke layar ponselnya. Raina sedang sibuk mengirim pesan pada Radit."Na!" Bentak Tama, mulai merasa kesal melihat kelakuan tidak acuh dari Raina pada semua pertanyaannya. Tama menatap dengan wajah sinis.Seperti biasa, bukannya merasa bersalah, Raina malah semakin tidak perduli. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tama sambil
"Lu kenapa enggak sama Tama aja sih?" tanya Yasmin dengan santai. Raina tersedak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Yasmin buru-buru memberikan minuman kepada Raina."Ya ampun Yas, pertanyaan macam apa itu?" balas Yasmin kesal."Kurang apa si Tama?? Jelek? Enggak. Pinter? Iya. Jomblo? Iya. Baik...?" Yasmin menghentikan kalimatnya. Berpikir sebentar."Enggak" jawab Raina cepat. Lalu mereka sama-sama tertawa."Lu liat enggak sih tipe cewek mantannya Tama?" tanya Raina kepada Yasmin."Iyalah, kan gue tahu mantan dia semuanya" jawab Yasmin."Coba lu bandingkan sama gue. Cewek yang dia demen tuh, imut-imut, manis, lemah lembut. Nah, beda kan sama gue??" ucap Raina lagi. Yasmin tidak bisa menjawab. Memang benar, semua mantan pacar Tama dulu memang bertolak belakang dengan pribadi Raina."Mana demen sama gue yang barbar gini" lanjut Raina lagi."Yaaah, jodoh enggak ada yang tahu Na"
"Ayo, bentar lagi filmnya mulai" ajak Tama."Iya." balas Raina, cepat menghabiskan minumannya, sebelum "bos" disampingnya ini mulai kesal, nanti lebih banyak lagi syarat permintaan yang diajukan oleh Tama."Film apa sih Tam? Duduknya sebelah mana? Seru enggak filmnya?" tanya Raina sambil berjalan cepat, mencoba menyamakan langkah dengan langkah Tama dengan kaki panjangnya."cerewet, nanti juga tahu" balas Tama singkat."Tsk!" Raina mendengus kesal. Sial sekali dia hari ini, batinnya."Kan, udah gelap, gue bilang cepetan dari tadi" gerutu Tama. Dia tanpa permisi memegang telapak tangan Raina dan membantu berjalan ke atas lebih cepat. Tama memilih sweet box, tempat paling atas dengan fasilitas sofa untuk dua orang, sehingga tidak akan terganggu orang lain. Awalnya Tama memilih tempat ini karena dia tidak ingin terganggu dengan orang lain, siapa sangka dia malah bisa berdua dengan tenang bersama Raina disini."Temp
Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nanti oleh puluhan peserta ujian masuk spesialis. Raina datang sedikit terlambat, tadinya dia ingin berangkat bersama Yasmin, tapi seperti biasa Raina terlambat bangun sehingga Yasmin lebih dulu berangkat.Sampai di tempat ujian, Raina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok sahabatnya lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang "Hai, apa kabar?" sapa seseorang dari belakang, dia menyentuh bahu Raina."Hai!" sapa Raina dengan senyuman lebar, hatinya senang karena hari ini dia bertemu lagi dengan Radit."Siap ujian?" ucap Radit, sambil tersenyum. Awalnya dia merasa canggung karena tidak mengenal seorang pun disini, hatinya lega saat melihat kehadiran Raina."Kapan pun juga pastinya ga bakal siap sih," sambut Raina sambil tertawa kecil."Yuk masuk, ruangannya udah dibuka" ajak Radit, Raina menjawab dengan anggukan setuju. Mereka berdua masuk dan duduk dibarisan yang sama
Dua minggu ini, hubungan Raina dan Tama terasa lebih akur. Tidak terlalu banyak adu pendapat yang terjadi. Malam ini Tama, seperti biasa, ikut makan malam di rumah Raina. Sambil menunggu, dia membantu Rendi mengerjakan soal-soal latihan ujian kompetensi kedokteran yang akan diikuti Rendi beberapa bulan lagi. Rendi memperhatikan Tama yang sedang menjelaskan suatu penyakit dengan serius. Melihat itu semua Raina merasa sedikit iri. Kalau dia yang menjelaskan, adiknya itu selalu tidak konsentrasi, ujung-ujungnya, pasti mereka berantem. Tapi Raina bersyukur, Rendi jadi rajin belajar semenjak ada Tama. Kalau hanya dengan dirinya, mana mau Rendi duduk tenang seperti saat ini. Tiba-tiba ponsel Tama dan Raina berbunyi. Ada satu chat baru di grup mereka."Teman, aku lagi ke Bandung nih, gimana kalau kita reuni??" tulis Mela, teman Tama dan Raina yang sekarang tinggal di Medan. Pesan Mela tadi langsung dibalas dengan puluhan pesan lain dan akhirnya mereka memutuskan hari Jumat mal