Compartir

chapter 30

Autor: gaojianxiong
last update Fecha de publicación: 2023-12-01 21:57:00

Senja menyapa mahluk bumi. Semilir angin menambahkan kesan romantis bagi sebagian orang yang menikmati senja. Ada juga orang yang bernapas dengan lega karena senja mulai datang, tanda pekerjaan sedang selesai dan meninggal tempat kerja. Dan ada juga orang mengusap peluh dengan hati yang merana, pulang tak membawa uang ke keluarganya. 

Sore ini di rumah yang besar terdengar lantunan ayat suci Alquran, meskipun terdengar tergagap-gagap. 

"Bukan Manya'mal mbak," tegur Romlah dengan lembut. 

Shila mengangkat alisnya bingung, dia menatap Maryam seakan bertanya 'apa?'. 

"Mayya'mal yang benar mbak. Ketikan nun mati (نٔ) bertemu dengan huruf yaa' (ي) hukum bacaan nya Idgham bighunnah," Maryam mengambil sepidol kemudian menulis huruf yang dan nun di papan yang sudah disiapkan untuk mengajarkan ngaji Shila. 

Kemudian dia menjelaskan arti dari hukum bacaan Idgham bighunnah.

"Idgham bighunnah adalah apabila nun mati (نٔ) atau tanwin ( ٌ- ٍ- ً- ) bertemu dengan salah satu empat huruf Hijaiyah yaitu; Yaa' (ي), Nun (نٔ), Mim (م) dan Wawu (و) dalam dua kata atau lafal. Cara membaca Idhgam bighunnah adalah memasukkan atau menrtasydidkan huruf idgham setelah huruf nun mati dengan berdengung. Apabila dan nun mati (نٔ) Bertemu dengan empat huruf di atas dalam satu lafal atau kalimat, maka harus dibaca dengan jelas dan hukum bacaannya adalah Izhar wajib. Beda lagi pembahasan nya mbak, sekarang ini kita belajar Idham bighunnah dulu ya." 

Maryam kembali nulis kalimat (لَنٔ يَقُولَ) di papan tulis itu. 

"Kata mbak apa bacan nya?" 

Shila memandang sekali lagi papan tulis itu, mencoba mengeja huruf Hijaiyah itu. 

"Layyaquula."

Maryam tersenyum tipis "kenapa dibaca begitu?" 

"Karena terdapat huruf idgham bighunnah di sana. Nun mati bertemu dengan Yaa' cara bacanya dimasukkan atau ditasydidkan menjadi satu dengan huruf sesudahnya dan dibunyikan dengan mendengung." jawab Shila dengan lugas. 

Maryam tersenyum lebar, non Shila termasuk orang yang mudah paham tentang sesuatu sama seperti Ar. 

"Pelajaran cukup sampai sekarang ya mbak." Maryam menyudahi acara mengajar ngaji Shila sekarang. 

Shila mengangguk saja, tanpa banyak bicara Shila membereskan buku iqro' yang diberikan Maryam kemaren, ia manaruh buku iqro' itu dekat dengan buku-buku sejarah yang ia koleksi. 

"Kalau gitu saya permisi dulu ya mbak." pamit Maryam setelah beres membersihkan papan tulis. 

"Iya." jawab singkat Shila tanpa memperdulikan lawan bicaranya. Ia sibuk membaca buku yang berjudul 'Sejarah gunung merapi'. 

Maryam tak jadi untuk segera keluar, dia mengerutkan keningnya bingung. Apa perasaan nya saja kalau Shila dari tadi tak banyak bicara, dan juga berbicara seperlunya saja. Biasanya Shila banyak bertanya kepada dirinya tentang Ar atau hal lainnya. 

"Kenapa mbak tak banyak bicara sekarang?" tanya Maryam tak menutupi rasa penasaran nya. 

Shila menoleh sebentar ke arah Maryam kemudian kembali fokus dengan buku nya. 

"Hanya sariawan saja," ucapnya dengan berbohong. Ia tak mau ketahuan bahwa ada perasaan cemburu dan iri yang membelenggu hatinya. 

"Oh, mau di buatkan peresan air lemon bercampur dengan madu mbak?" tawar Maryam. 

"Tidak usah. Aku hanya butuh sendiri. " Ucapnya, tersirat nada pengusiran halus. 

Maryam mengangguk, kemudian ia berjalan keluar dari kamar Shila. Dia mencoba berpikir positif, mungkin mood Shila buruk sekarang ini. 

***

Terlihat disana pemandangan seorang pria dan anak kecil sedang tertawa dengan bahagianya. 

Sesekali pria itu mengendong anak kecil layak pesawat terbang sehingga membuat anak kecil itu tertawa bahagia. 

Setelah puas bermain kedua pria yang berbeda umur itu menghela napas dengan kasar, dengan senyuman yang tak pernah lentur dari bibirnya. 

"Al capek." keluh anak kecil itu sambil tertidur di paha pria dewasa. 

"Sama, tapi senang kan?" tanya pria itu, pria yang bernama Zaidan. Sedangkan anak kecil itu adalah Ar. 

Ar tersenyum dengan lebar sambil menganggukkan kepalanya. "Ya," 

Zaidan mengacak gemas rambut Ar. Kemudian tak ada suara lagi suara hening menyelimuti mereka. Meresapi kebersamaan yang ada. 

Semakin hari Ar dan Zaidan makin lengket seperti ayah dan anak tak mau dipisahkan. 

Dengan menghela napas Zaidan berbicara ke Ar. 

"Besok om harus pulang." Beritahu Zaidan dengan berat hati, ada perasaan tak rela berjauhan dengan Ar. 

"Pulang kemana? Lumah om kan di sini?" tanya Ar dengan bingungnya. Kata bunda nya rumah om Zaidan disini sama seperti rumah mama Shila. 

"Tidak Ar, rumah om jauh di Jakarta." 

"Jakalta?" 

"Iya, kalau mau ke sana harus paket pesawat terbang." 

"Pesawat telbang? Waah asik, Al boleh ikut nddak om?" tanya Ar dengan kedua bola yang  berbinar-binar berharap dibolehin ikut oleh Zaidan. 

"Tidak." 

"Yaah, kenapa Al ndak boleh ikut?!" tanya Ar dengan bibir monyong sebal karena tak diizinkan ikut oleh Zaidan. 

Zaidan terkekeh kecil dengan raut wajah sebal Ar. Dasar anak kecil, emangnya naik pesawat segampang seperti naik pesawat mainan?!

"Nanti siapa yang naga bunda Ar?" 

Ar diam, dia berpikir. Benar kata om Zaidan, nanti siapa yang kadang sang bunda?

"Nddak deh, disini aja Al sama bunda." ujar Ar dengan lirih. 

"Nanti om bawa kan Ar mainan lagi deh." 

"Janji?" Ar menyodorkan jari kelingking nya. 

Dengan senang hati Zaidan menautkan jari kelilingnya juga sambil berucap "janji." 

Ar bangun dari tiduran di paha Zaidan. 

"Al mau mandi dulu, bau acem. Udah hampil mahrib." beritahu Ar. 

"Om ndak mau mandi?" tanya Ar yang melihat Zaidan masih bergeming di duduknya. 

"Nanti." jawab Zaidan

"Udah hampil mahrib lho, Ndak mau sholat?" 

Zaidan gelagapan ketika ditanya oleh anak kecil tentang sholat. 

"Nanti," ujar Zaidan dengan kikuk. 

"Kata Unda kalau mau sholat ndak boleh nanti-nanti takut ada malaikat pencabut nyawa." beritahu Ar. 

Zaidan merinding sendiri mendengar tutur kata Ar, malaikat pencabut nyawa? Ah, dia tau mau mati. 

"Oke, om juga mau mandi. Mau sholat," ujar Zaidan dengan berkilah padahal dia hanya mau mandi saja. 

Sholat? Dia saja sholat hanya ketika idul Fitri ngikut orang-orang. Bacanya pun dia tak hafal, gimana mau sholat sendiri?

"Ar," panggil Maryam sambil menyusul ke arah mereka. 

Ar dan Zaidan yang hendak kedalam berhenti ketika Maryam lebih dulu tiba di depannya. 

"Hampir maghrib nak, yuk mandi dulu." ajak Maryam sambil mengambil Ar untuk di gendong. 

Tanpa menghiraukan seseorang yang berada di samping Ar. 

"Huem," Ar mengangguk sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Maryam. 

Kemudian Maryam membawa Ar kedalam. 

"Dadah om Aindan." Ar melembabkan tangannya tanda perpisahan. 

Dibelakang Zaidan merasa jengkel diabaikan seseorang, bahkan seseorang itu pembantu dirinya. 

"Dasar tak tahu sopan santun." umpat Zaidan dengan keras. 

Maryam mendengar umpatan itu tapi di tak menghiraukan dan terus berjalan. Hatinya masih dongkol atas sikap sang tuan kemaren, soal permainan yang diberikan ke Ar. Dan juga ada alasan lain selain rasa dongkol, dia mencoba menjauh dari sang tuan karena tak baik bagi hatinya yang selalu bekerja abnormal. Ia takut nada-nada cinta dihatinya makin tumbuh. 

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • GJX GN 21000000189   chapter 67

    eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu

  • GJX GN 21000000189   chapter 66

    Sejak kejadian di perpustakaan rasa kesal Mika menguap hilang entah kemana. Tetapi ucapan manis Daffa itu hanyalah ucapan manis belaka. Mungkin hanya untuk membuatnya senang. Buktinya sampai sekarang Daffa sama sekali tidak pernah memberitahukan keinginannya. Terhitung sudah beberapa hari semenjak Daffa mengatakan bahwa dirinya akan bilang ke Mika kalau ingin makan masakannya. Kenyataannya Mika-lah yang selalu mengirim pesan duluan untuk menanyakan apakah Daffa ingin dibawakan bekal atau tidak.Dan tidak.Sampai hari ini Mika tidak pernah membawakan Daffa bekal lagi.Mika memandang ke arah lapangan basket yang tidak jauh darinya. Sekarang dia, Siska, dan Michelle sedang duduk di bangku bawah pohon beringin samping kelasnya sambil melihat Daffa dan Rendy yang sedang melatih junior-junio

  • GJX GN 21000000189   chapter 65

    "This is your baby's heartbeat."From the monitor screen connected to the transducer on my stomach, I could see that my baby was still tiny. Maybe I can say it looks like a lump of meat. Over there is the source of my baby's heartbeat. This miracle had not happened in last month's examination."Your baby's heart rate is normal." Doctor Luke said."Really? How do you know?"In a reclining position, I glanced at Sean. At first, he refused to take me to the hospital, but he suddenly agreed, and now asked questions as if he cared. Sean folded his arms, and his expression looked worried too. Why is Sean worried?"The frequency is stable, 145. You can listen carefully too." Doctor Luke loo

  • GJX GN 21000000189   chapter 64

    The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha never left his pack wit

  • GJX GN 21000000189   chapter 63

    Elsa terbangun merasakan pegal di sekujur tubuhnya, namun juga ringan di dadanya. Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar dalam diam. Ketika berhasil meraih semua kesadarannya, ingatan mengenai kejadian semalam membuat darahnya mendidih dan naik ke wajah. Elsa mencengkram selimut semakin erat dan menaikkannya ke dagu, menggigit bibir ketika setiap momen itu berputar di kepalanya bagai sebuah film.Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan. Sudah bukan lagi seorang gadis. Di usia 16 tahun, ya tuhan, apa yang dirinya pikirkan?!Elsa memikirkan bagaimana semalam Leon menyentuhnya, menyebar gelenyar panas ke seluruh tubuh, dan mengenalkannya ke sensasi yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Terasa seperti, tubuhnya bukanlah miliknya. Karena Leon mengenal setiap jengkalnya l

  • GJX GN 21000000189   chapter 62

    CHAPTER 15He had gotten her flowers.Sara stared at the large beautiful bouquet of flowers Ariel had given her, she had brought it with her from work.Along with a carefully hand written note on a pink slip, her friend had said, "Christian said I should give you this, he is so anticipating you guys date, like seriously that was all he could talk about, he revealed some details which he said I should keep a secret from you, and all those stuffs,mehn babe you so lucky.""I'm lucky? In what way." She'd asked looking at the bouquet of red roses adorably, smiling and swooning profusely."Girl, you just walked down the streets one day, meet an handsome guy who now loves you like no man's business, and you're asking me why I say you are lucky, oh God when?" Ariel had answered looking up and raising her hands mockingly in an apologetic gesture.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status