Share

chapter 14

Author: gaojianxiong
last update publish date: 2023-12-01 17:29:24

"Ingat, Tia ... jangan main ke mana-mana sampai ibu pulang." Sembari mengecek kembali kerupuk pasir dalam plastik besar, Sri melirik sang putri.

Tiara duduk di lantai depan meja kaca ruang tamu. Sibuk dengan pensil warna dan gambar pegunungan, mahakarya Sapardi. Seolah sadar Sri menunggu persetujuannya, gadis kecilnya itu mengangguk cepat.

Sri mendesah. Masih segar diingatan kejadian kemarin sore ketika Tiara menunjuk kakinya. Tak ada apa-apa. Namun, putrinya itu bersikukuh, jika teman mainnya duduk sembari mencengkeram pergelangan kaki kirinya. Seharian hatinya dihimpit kecemasan. Tak tenang. Bahkan ketakutan sendiri. Saat Sapardi pulang, diceritakanlah semua silah pola Tiara yang dirasanya ganjil. Tanggapan sang suami enteng. Cukup temani saja. Jangan ciptakan spekulasi menyeramkan yang berujung pada permintaan pindah rumah. Tak sepeserpun uang yang ia kantongi. Gaji bulan lalu ludes untuk membayar kontrakan ini. 

Himpitan ekonomi nyatanya telah merubah pola pikir sang suami. Sapardi yang dulunya begitu percaya akan makhluk tak kasat mata, seolah mengubur kepercayaan itu ke dasar tanah. Pekerjaan di pabrik yang memaksanya sering lembur sampai tengah malam, perlahan mengasah keberanian. Kalau boleh dibandingkan dengan rumah ini, pabrik Sapardi terkenal lebih angker. Desas-desus yang beredar, pabrik itu dibangun di atas lahan bekas rawa-rawa tempat buang mayat.

"Ingat, ya, Tiara ... Nggak boleh main ke rumah Mas Fajar."

Fajar itu nama putra penyewa sebelah.

"Tia di rumah, Bu," jawab Tiara, tanpa repot menoleh sang Ibu.

Andai bukan karena perut yang mesti diisi setiap hari, Sri tak bakal meninggalkan Tiara seorang diri. Hari minggu menjadi hari dimana lumbung rezekinya terisih penuh. Kereta angin siap ia kayuh menuju alun-alun Sidoarjo. Pedagang berkumpul di sana. Mencari peruntungan yang sama. Jika di hari biasa kerupuknya hanya laku paling banyak lima bungkus. Ketika akhir pekan, apalagi Sri berangkat pagi buta begini, dipastikan dagangannya bisa ludes terjual.

"Kunci rumahnya dari dalam, ya, Tiara?"

Tiara berhenti memoles gundukan lebih mirip bukit dibanding gunung itu. Meletakkan pensil warna, lalu menoleh pada Sri dengan sorot mata yang berpendar heran.

"Ibu ... Sudah siang. Ibu nggak berangkat?"

Sri mengangguk. Ah, apa yang perlu dicemaskan? Bukan sekali dua kali Tiara di rumah sendiri. Putrinya itu pemberani. Tak pernah menangis. Penurut. Suka di rumah ketimbang main. Kalau bukan ia yang memintanya main ke rumah tetangga, Tiara tak akan keluar rumah. Jangan berlebih Sri! Lagi pula, pukul sembilan nanti, kamu sudah di rumah lagi.

"Ibu berangkat, Nak. Assalamualaikum," pamit Sri akhirnya.

Tiara bangun. Menghampiri. Mengecup tangan Sri. Mengantar wanita yang pagi itu menggenakan tunik merah jambu dan celana kain, pergi mengais rezeki.

Ketika sang Ibu tak lagi terlihat oleh indra penglihatannya, Tiara menutup pintu. Membalikkan badan, lalu tersenyum girang.

"Mbak Marlina?"

Marlina duduk di kursi. Tersenyum. Kulit putihnya bersemu merah. Rambut sebahunya terurai rapi. Hanya saja, Marlina tak pernah berganti pakaian. Kebaya putih model lawas, dipadu dengan kain jarik setinggi lutut itu terus yang ia pakai.

"Ibuku sudah berangkat," lapor Tiara. Marlina pasti datang ketika Tiara sendiri.

"Lihat, ini gambar gunung buatan Bapakku," ucapnya sembari duduk di sebelah perempuan itu dan memamerkan buku gambarnya.

Tak ada suara. Marlina bungkam. Ya, dua hari bermain dengan Marlina, Tiaralah yang lebih banyak bicara.

"Rumahmu di mana? Boleh aku main ke rumahmu?"

Marlina menggeleng.

"Jauh?"

Marlina mengangguk, senyum simpulnya mengiringi.

------ ----- ------

Tiara bergerak tak tenang dalam tidurnya. Perutnya melilit. Efek makan nasi di malam hari mulai terasa. Tak mungkin membangunkan ibu yang pastinya sudah tidur. Akhirnya, gadis kecil yang lebih senang tidur sendiri ketimbang bersama kedua orang tuanya itu, turun dari ranjang. Terbirit-birit melewati ruang tamu. Sempat menoleh ke arah jam dinding di atas akuarium dan mendapati kedua jarumnya menunjuk angka dua.

Perutnya kembali bergejolak---Alarm darurat yang memaksa tubuh mungilnya melewati ruang tengah, membuka pintu dapur dan berbelok ke area kamar mandi. Sumur terlewati. Kamar mandi dan toilet dibangun dalam bilik berbeda.

"Sakit," rintihnya. Membuka pintu toilet dan menutupnya agak keras.

Lega. Sakit di perutnya pun berangsur lenyap. Sembari menunggu hajatnya beres, Tiara memukul ringan air dalam bak yang dibuat dari semen sampai beriak. Memecah kesenyapan. Menandingi gesekan ranting pohon juwet  ke  jendela yang tingginya tak lebih dari leher orang dewasa saat berdiri.

Setelah selesai, Tiara cepat-cepat keluar dari toilet. Namun langkahnya terhadang. Wanita yang sangat ia kenal berdiri di sana.

"Mbak Marlina, kok di sini?"

Tiara mendekat. Sedikit demi sedikit. Marlina tak menyambutnya dengan senyum seperti biasa. Dan, dari mana dia masuk. Semua pintu yang mengarah ke luar rumah terkunci.

"Mbak?" panggil Tiara lagi.

Marlina menunduk dengan rambut terurai acak-acakan----menutupi wajah. Kebaya putihnya penuh bercak merah.  Seperti saos tomat sengaja disiram ke badannya. Saat jarak Tiara tak lebih dari dua lebar bahu, Marlina mendongak. Menyeringai, dengan kelopak mata mendelik lebar. Wajahnya tak mulus. Borok memenuhi sebagian paras cantiknya. Bau anyir tercium dan sukses membuat Tiara menyumbat hidung rapat-rapat.  Gadis kecil itu bergerak mundur. Marlina mendekat. Langkahnya sudah seperti tongkat kayu yang reot. Detik selanjutnya, ia terbahak. Cairan entah apa itu, mengalir dari dalam mulutnya.

Tiara menjerit sekencangnya. Jeritan yang membuat Marlina lari terseok-seok masuk ke dalam toilet. Meninggalkan gadis kecil itu seorang diri. Menggigil ketakutan. Terduduk di lantai bersimbah peluh, dan air mata.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GJX GN 21000000197   chapter 67

    a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a a a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a

  • GJX GN 21000000197   chapter 66

    “Hey,” said Xander to a police officer.We had left Eloim at Xander’s parents for the day, which Eloim was not happy about, but he had gone with Miki, which made him feel a little better.We came to the police station. This was the county he had grown up in, and also where Enola was heading that fateful day. People here had been the one to respond to the call.

  • GJX GN 21000000197   chapter 65

    RAJA AMPAT – PAPUA"Terimakasih." Aku bergegas membuka pintu mobil. Vasco memang mengantarku sampai tujuan, dari Jakarta sampai ke Raja Ampat—benar-benar sampai di depan pintu mansion Gabriel. Dia memang selalu seperti ini.

  • GJX GN 21000000197   chapter 64

    Chapter 47Leviathan’s POVI should’ve seen it. I should’ve fucking seen the signs.I can’t believe it. I have been blind all these time and so is Beelzebub. We didn’t know until it was totally confirmed by the chaos with the sudden rift in the balance. Fates had been toying with me and my husband.Yes. Husband.Beelzebub is my husband and Crocell… or who we know as Trent Easton, this lifetime’s reincarnation of Crocell is our son and as of now, he doesn’t know anything yet. He’s as blind as a bat with the tru

  • GJX GN 21000000197   chapter 63

    Xavier pulled me by my hair all the way to a dark room. This room isn't that torture room from earlier; this one just has handcuffs on the bed. I'm confused about what we were doing here. I was sure that he would have taken me to that torturing room.I regret what I said about his parents earlier. I just know that he is mad at me for that. I wish that everything that i

  • GJX GN 21000000197   chapter 62

    Emma Green had been waiting her entire adult life to experience how it felt to be really and truly in love with someone. To love and be loved in return. To find out how it felt to be really connected to someone. To fall in love in a way that completely sweeps you off your feet. She had always loved the idea of meeting someone, falling madly in love, getting married and living happily ever after. She had seen a lot of romantic movies and read a lot of romantic novels. It was always amazing when the actors in the movie found each other and were all lovey dovey at the end. And at the end of it all she always wondered if she could ever have something that beautiful. One other thing she really wanted to experience - Great sex. Sex that included lots of slow, deep kisses and long, lingering touches. Sex that stole her breath away and zapped her common sense. Sex that made her toes tingle and her skin prickle and her body actually throb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status