MasukCukup lama Zuhra tercenung, ucapan Dirgam mengandung banyak arti yang sulit diterjemahkan untuk ukuran gadis bodoh seperti dirinya.
Dengan langkah tergesa ia menyusul Dirgam, kali ini tanpa berlari karena ia sangat-sangat sadar itu tidak baik bagi kesehatan kandungannya.
Namun, Zuhra harus merasa kecewa karena Dirgam tak lagi ada di kantornya. Pria itu hanya meninggalkan pesan pada supir untuk mengantarkan Zuhra pulang ke rumah.
Bukannya menurut, wanita itu malah bertanya pada siapa pun yang ditemuinya, bahkan petugas kebersihan sekalipun., dan tentu saja mereka semua menggelengkan kepala, bos mereka tak seramah itu hingga bisa membagi hal khusus pada mereka. Bahkan Winda yang notabenenya adalah sekretaris Dirgam tak tahu menahu ke mana bosnya itu pergi karena jadwal Dirgam saat ini memang sedang kosong.
Zuhra jengkel, Dirgam ini lama-lama seperti perempuan, selalu lari dari masalah. Pengecut!
Dia belum tahu saja apa yang bisa dilakukan oleh wanita hamil. Tunggu saja.
Zuhra tersenyum seraya berjalan meninggalkan ruangan Dirgam.
Wanita itu menemui supir yang menunggu, lalu meminta untuk diantar ke suatu tempat. Setengah jam kemudian ia sampai di depan rumah berrtingkat yang jarang sekali ia kunjungi. Zuhra menarik napas dalam, lalu memulai rencana yang ada di kepalanya.
“Eh, eh ... menantu Mama baru datang kenapa nangis?” Wanita paruh baya itu menyongsong Zuhra dengan wajah khawatirnya.
Zuhra mengusap kasar air mata yang menetes di pipinya. Kacau, dia tadi bermaksud memasang wajah melas agar mama mertuanya ini simpati, dan member pelajaran pada putranya yang menjengkelkan itu. Tapi yang ada dia malah menangis dan tak bisa berhenti seperti ini, apalagi mengingat ucapan Dirgam sebelum pergi tadi. Zuhra berpikir mungkin dia hanya terbawa perasaan, tapi yang mengherankan air matanya tak bisa berhenti mengalir, dan yang lebih aneh lagi, dia merasa lega.
“Ini pasti karena anak bandel itu,” decak Mama Vera. “Awas saja dia!”
“Udah kamu yang tenang, sekarang istirahat di kamar Dirgam mau?”
Zuhra kembali mengusap air matanya seraya menggeleng. Eh, tunggu dulu ....
Kamar Dirgam?
“Memangnya boleh, Ma?” tanyanya spontan.
“Ya boleh dong, kamu ‘kan istrinya.” Mama Vera tertawa lalu berdiri untuk mengajak Zuhra ke lantai dua, sebelumnya beliau menyimpan smartphone yang sedari tadi di utak-atiknya.
“Nanti Mama kasih tahu kamu rahasia anak tengil satu itu,” bisiknya seraya terkikik geli.
“Mas Dirgam nggak tengil kok, Ma,” sangkal Zuhra tanpa sadar.
Mama Vera cemberut, “Iya deh yang suaminya dibelain terus,” ledeknya.
Zuhra merona dan meringis salah tingkah.
Mama Vera menarik Zuhra menuju pintu kamar coklat yang letaknya agak di ujung lorong. Hm, kenapa dari luar saja Zuhra bisa merasakan aura gelap Dirgam ya?
“Nah, ini dia kamar suami kamu sebelum dia sok dewasa dan minggat dari rumah.”
“Minggat?” gumam Zuhra.
“Pindah maksud Mama, sok bisa ngurusin hidupnya sendiri, nggak butuh Mama lagi buat nyuci baju dan kaos kakinya,” sungut Mama Vera.
Zuhra tertawa kecil, kelihatan sekali kalau Mama Vera ini sangat menyayangi Dirgam dan enggan ditinggal oleh putra satu-satunya itu.
“Ini dia rahasia yang Mama sebut tadi,” bisik wanita itu menggebu-gebu.
Zuhra menoleh, mengamati Mama Vera yang sedang membuka album. Senyum Zuhra mengembang, ini pasti foto Dirgam semasa kecil.
“Ma, Zuhra bawa pulang boleh?” tanya wanita itu berharap.
“Jangan dong, nanti kalau Mama kangen gimana? Dirgamnya ‘kan udah selalu sama kamu,” ujar Mama Vera tak setuju.
“Oh, hehe iya juga.” Zuhra tersenyum kikuk.
Bu Vera tertawa. “Nggak usah kecewa gitu mukanya, Mama cuma bercanda.”
“Eh?”
“Segitu cintanya sampai kecewa berat gitu nggak dapet foto kinyis-kinyis Dirgam.” Wanita paruh baya itu tersenyum menggoda.
Zuhra gelisah dan akhirnya berdehem tak pelan. Cinta kata mertuanya?
“Nih, Mama kasih satu, masih ada tujuh lagi tuh di lemari.”
Potret lucu Dirgam saat sedang menanam bunga matahari membuat Zuhra mengulum senyum. Pria itu terlihat manis dengan seragam putih merah rapihnya. Dan, Jangan lupakan kacamata yang menggantung di ujung hidung mungil nya.
“Itu sekitar kelas dua gitu, dia paling semangat kalau disuruh bercocok tanam,” ungkap Mama Vera.
“Eh, tapi bukan itu yang mau Mama kasih tahu tadi,” ucapnya seraya menepuk jidat.
“ini dia ....” pekiknya girang.
Zuhra menyipit dan seketika membelalak. Itu foto dirinya yang sedang menggunakan seragam putih merah. Dan foto itu diambil dari arah samping serta jarak yang cukup jauh. Apa maksudnya ini?
Suara derap kaki yang tergesa-gesa dan diakhiri bunyi pintu terbanting mengalihkan perhatian Zuhra. Matanya membulat melihat Dirgam yang ngos-ngosan dan berkeringat. Apa dia sehabis lari maraton?
Dirgam berjalan cepat mendekatkan diri lalu menangkup wajah Zuhra dengan cemas. Cemas?
Zuhra sepertinya banyak bertanya pada dirinya sendiri hari ini.
“Saya suruh kamu pulang, kenapa malah ke sini?” tanya pria itu gusar.
Zuhra masih diam karena kaget. Bahkan tak menyadari kalau ibu mertuanya diam-diam menyingkir.
Pandangan Dirgam turun ke bawah, berhenti tepat di telapak tangan Zuhra yang masih menggenggam selembar foto.
Foto ....
Bisa dirasakannya tubuh pria di depannya berdiri kaku. Entah mengapa hal itu membuat hati Zuhra semakin berkecamuk.
“Bisa jelasin?” Zuhra menyodorkan kertas usang itu pada suaminya.
Dan sorotan tajam pria itu seperti mengandung arti kelam bagi Zuhra, bahkan sampai beberapa detik Dirgam tak melepas pandangannya. Seolah lewat foto itu Dirgam bisa melompat ke dimensi lain dan meninggalkan raganya di sini.
“Darimana Mas dapet foto ini?” Zuhra bertanya karena Dirgam tak kunjung menjelaskan.
“Ini ... ini waktu Zuhra masih kecil, dan bahkan belum pindah ke Jakarta.”
Dia tidak tahu saat di foto itu dirinya usia berapa atau bahkan kelas berapa. Zuhra hanya ingat bahwa jalanan itu selalu dilaluinya ketika pergi dan pulang sekolah. Karena jarak sekolah dan rumahnya tidak terlalu jauh, maka Zuhra lebih sering jalan kaki.
“Kenapa Mas nggak jawab?” tanya Zuhra gusar. “Atau jangan-jangan yang dibilang Reno itu bener, Mas cuma mau manfaatin Zuhra buat balas dendam. Iya?” tuduhnya.
Seketika kepala Dirgam terangkat, matanya menyorot tajam wajah wanita didepannya. “Kamu masih berpikir begitu?” desisnya.
Zuhra tahu hal ini tidak baik, Dirgam yang seperti ini sangat sulit untuk dihadapi. Emosi pria itu sedang tersulut, tapi rasa penasaran Zuhra pun belum menyusut.
“Makanya Mas jelasin.” Zuhra lebih melembutkan suaranya. Emosi dibalas emosi bukanlah sebuah solusi.
Dirgam menarik napas kasar, sebelah tangannya berada di pinggang dan sebelah lagi meremas rambutnya kasar. “Masalahnya kamu nggak pernah percaya sama saya!”
Zuhra menggeleng tak habis pikir, apa yang mau dipercaya jika Dirgam tak menjelaskan?
“Saya sudah bilang, dia itu bajingan. Tapi kamu nggak percaya, nggak perduli dan terus menemui dia.”
Jadi, ini masih masalah Reno?
“Apa hubungannya? Zuhra tanya tentang foto ini, bukan tentang Reno.
“Semua berhubungan, masalah kita, foto itu, dan juga bajingan kesayangan kamu itu.”
Kalau gitu jelaskan! Zuhra baru bisa ngerti dan percaya kalau Mas jelasin semuanya ke Zuhra, ucap wanita itu.
Dirgam mendengus dan berkacak pinggang, tapi nyatanya ia mengikuti permintaan wanita itu.
a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a a a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a a. a a a a a a a. a a a a. a aa a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a a a a a a. a a a a a a. a a a a a. a a
“Hey,” said Xander to a police officer.We had left Eloim at Xander’s parents for the day, which Eloim was not happy about, but he had gone with Miki, which made him feel a little better.We came to the police station. This was the county he had grown up in, and also where Enola was heading that fateful day. People here had been the one to respond to the call.
RAJA AMPAT – PAPUA"Terimakasih." Aku bergegas membuka pintu mobil. Vasco memang mengantarku sampai tujuan, dari Jakarta sampai ke Raja Ampat—benar-benar sampai di depan pintu mansion Gabriel. Dia memang selalu seperti ini.
Chapter 47Leviathan’s POVI should’ve seen it. I should’ve fucking seen the signs.I can’t believe it. I have been blind all these time and so is Beelzebub. We didn’t know until it was totally confirmed by the chaos with the sudden rift in the balance. Fates had been toying with me and my husband.Yes. Husband.Beelzebub is my husband and Crocell… or who we know as Trent Easton, this lifetime’s reincarnation of Crocell is our son and as of now, he doesn’t know anything yet. He’s as blind as a bat with the tru
Xavier pulled me by my hair all the way to a dark room. This room isn't that torture room from earlier; this one just has handcuffs on the bed. I'm confused about what we were doing here. I was sure that he would have taken me to that torturing room.I regret what I said about his parents earlier. I just know that he is mad at me for that. I wish that everything that i
Emma Green had been waiting her entire adult life to experience how it felt to be really and truly in love with someone. To love and be loved in return. To find out how it felt to be really connected to someone. To fall in love in a way that completely sweeps you off your feet. She had always loved the idea of meeting someone, falling madly in love, getting married and living happily ever after. She had seen a lot of romantic movies and read a lot of romantic novels. It was always amazing when the actors in the movie found each other and were all lovey dovey at the end. And at the end of it all she always wondered if she could ever have something that beautiful. One other thing she really wanted to experience - Great sex. Sex that included lots of slow, deep kisses and long, lingering touches. Sex that stole her breath away and zapped her common sense. Sex that made her toes tingle and her skin prickle and her body actually throb