LOGINBandara Soekarno-Hatta, Indonesia.
Pria tampan yang sejak tadi sudah tidak sabar lagi ingin secepatnya sampai di Indonesia bernafas lega, karena pesawat yang dia tumpangi sudah mendarat dengan selamat.
Pintu kabin pun terbuka, Revan langsung bangun dari tempat duduknya dan mengambil barang-barang miliknya.
Revan turun dengan langkah tergesa-gesa karena dia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Anna. Wanita yang paling dia cintai.
Revan berjalan di sekitar bandara dan dia melihat sosok yang tidak asing untuknya.
Itu adalah ayah, ibu dan wanita yang selama ini tidak pernah ingin dia melihatnya.
Revan menghela nafas panjang dan dia langsung memalingkan wajahnya.
"Van, akhirnya kamu kembali. Aku sangat merindukan kamu," ucap Renata. Dia mendekati Revan dan hendak meraih tangannya tapi Revan langsung menepisnya.
"Jangan sentuh aku! Kamu tidak memiliki hak untuk menyentuh aku!" Bentak Revan, dia tidak menyukai Renata sama sekali. Revan langsung pergi meninggalkan mereka bertiga dan secepatnya menghentikan taksi.
Taksi itu pun berhenti dan memintanya untuk menuju kearah rumah Anna.
"Pak! Antar saya ke jl. Xxx."
Supir taksi itu pun mengangguk dan taksi itu pun mulai berjalan meninggalkan bandara secepatnya.
Renata merasakan tangannya kosong, dia gagal meraih tangan Revan.
"Ke … kenapa Revan seperti itu?" Ucap Renata, dia menatap kearah Bertha, ibunya Revan dan juga Irawan, ayahnya Revan.
"sudahlah, mungkin Revan masih merasa lelah. Biarkan saja dia pergi, ayolah Rena. Kita tunggu Revan di rumah. Bukankah tadi kamu sudah menyewa koki yang bagus untuk makan malam kita nanti. Pasti Revan sangat menyukainya," ucap Bertha. Dia mengusap rambut Renata dan berusaha untuk membuatnya tenang.
Renata mengangguk dan mereka pun pergi meninggalkan bandara itu.
Mereka akan menunggu Revan di rumah mereka saja.
Mereka menyangka jika Revan akan kembali ke rumahnya tapi ternyata tempat yang pertama dia cari adalah rumah Anna. Wanita yang paling dia cintai.
Di depan gang kecil kawasan sederhana di kota Jakarta.
Sebuah taksi berhenti disana, Revan langsung membuka pintu dan segera keluar dari taksi itu.
Wajah tampan dan penampilan Revan yang terlalu mencolok membuat dirinya menjadi pusat perhatian, banyak mata yang terus memandangnya tanpa berkedip sama sekali.
Revan tidak peduli dengan semua itu. Karena tujuan utamanya adalah bertemu Anna dan mengambilnya kembali. Kali ini dia benar-benar akan membuat Anna bahagia dan menjadikannya wanita satu-satunya yang hanya akan menjadi miliknya.
Recan melangkah secepatnya dan dia pun akhirnya menemukan rumah Anna.
Rumah yang sudah rata oleh tanah dan terlihat jika bangunan pun sudah tidak ada lagi disana.
Revan menyipitkan matanya dan dia mencari orang yang ada disekitar sana.
Revan mencari-cari dan akhirnya dia menemukan orang yang tepat sedang berjalan tepat didepan matanya.
"Tunggu pak!" Teriak Revan kepada orang yang sedang lewat tepat didepannya saat ini.
Orang itu pun menoleh dan dia pun tersenyum ramah kepada Revan. Apalagi melihat wajah tampan Revan dan juga penampilannya yang luar biasa membuat orang itu merasa sangat Canggung.
"Iya mas! Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya pria itu.
"Pak, saya ingin bertanya. Ada apa dengan rumah ini? Kenapa semuanya jadi begini? Bagaimana dengan keadaan sang pemilik rumah, apakah mereka baik-baik saja? Dan kemana mereka sekarang?" Tanya Revan, dia bertanya begitu banyak dan dia membuat si pria paruh baya itu merasa sangat kebingungan untuk menjawabnya.
"Pemilik rumah ini sudah lama pindah. Tujuh tahun yang lalu rumahnya kebakaran sehingga mereka pindah dari daerah ini. Tapi saya dengar dia tinggal di kampung sebelah, coba saja mas tanya ke sebelah. Mungkin dia masih tinggal disana dan mendengar gosip yang beredar, anak pemilik rumah ini akan segera menikah dengan anak orang kaya. Hehehe … nasibnya memang benar-benar sangat bagus. Selama tujuh tahun dia menderita dan kini kebahagiaan telah datang untuknya," ucap pria itu, dia tersenyum sendiri karena dia tahu sosok Anna yang dia kenal.
Deg ...
Detak jantung Revan berdetak dengan cepat. Dia merasa terkejut dengan itu semua.
"Me ... Menikah? Menikah dengan siapa? Pak bisakah anda mengantarkan saya, saya ingin sekali bertemu dengannya!" Ucap Revan. Dia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Anna dan menghancurkan pesta pernikahan itu karena Anna hanya akan menjadi miliknya.
eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu eyu ey eyu eyu
Sejak kejadian di perpustakaan rasa kesal Mika menguap hilang entah kemana. Tetapi ucapan manis Daffa itu hanyalah ucapan manis belaka. Mungkin hanya untuk membuatnya senang. Buktinya sampai sekarang Daffa sama sekali tidak pernah memberitahukan keinginannya. Terhitung sudah beberapa hari semenjak Daffa mengatakan bahwa dirinya akan bilang ke Mika kalau ingin makan masakannya. Kenyataannya Mika-lah yang selalu mengirim pesan duluan untuk menanyakan apakah Daffa ingin dibawakan bekal atau tidak.Dan tidak.Sampai hari ini Mika tidak pernah membawakan Daffa bekal lagi.Mika memandang ke arah lapangan basket yang tidak jauh darinya. Sekarang dia, Siska, dan Michelle sedang duduk di bangku bawah pohon beringin samping kelasnya sambil melihat Daffa dan Rendy yang sedang melatih junior-junio
"This is your baby's heartbeat."From the monitor screen connected to the transducer on my stomach, I could see that my baby was still tiny. Maybe I can say it looks like a lump of meat. Over there is the source of my baby's heartbeat. This miracle had not happened in last month's examination."Your baby's heart rate is normal." Doctor Luke said."Really? How do you know?"In a reclining position, I glanced at Sean. At first, he refused to take me to the hospital, but he suddenly agreed, and now asked questions as if he cared. Sean folded his arms, and his expression looked worried too. Why is Sean worried?"The frequency is stable, 145. You can listen carefully too." Doctor Luke loo
The annual Gala of Alpha's and Luna's took place every year at the end of the semester, that was the first week of July. Which was in a few days.Faith's brusies were non existent by this time and Dea had not hit her or given her any more injuries either. Alpha Rigie took a lot of interest in faith's personal life. Faith was not very happy with that but the pressure on her was high.Her sisters resented her even more. Dea avoided her mostly and on occasions yelled at her to the point where she did not have to beat her to bring tears to her eyes.In short, it was one hell of a one week that Faith endured.She was not that excited to leave for the Gala at first but after suffering the unnecessary amount of humiliation and badmouthing, Faith was happy to leave for a few days.Alpha Rigie picked Faith up in his car along with a few warriors. An Alpha never left his pack wit
Elsa terbangun merasakan pegal di sekujur tubuhnya, namun juga ringan di dadanya. Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar dalam diam. Ketika berhasil meraih semua kesadarannya, ingatan mengenai kejadian semalam membuat darahnya mendidih dan naik ke wajah. Elsa mencengkram selimut semakin erat dan menaikkannya ke dagu, menggigit bibir ketika setiap momen itu berputar di kepalanya bagai sebuah film.Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan. Sudah bukan lagi seorang gadis. Di usia 16 tahun, ya tuhan, apa yang dirinya pikirkan?!Elsa memikirkan bagaimana semalam Leon menyentuhnya, menyebar gelenyar panas ke seluruh tubuh, dan mengenalkannya ke sensasi yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Terasa seperti, tubuhnya bukanlah miliknya. Karena Leon mengenal setiap jengkalnya l
CHAPTER 15He had gotten her flowers.Sara stared at the large beautiful bouquet of flowers Ariel had given her, she had brought it with her from work.Along with a carefully hand written note on a pink slip, her friend had said, "Christian said I should give you this, he is so anticipating you guys date, like seriously that was all he could talk about, he revealed some details which he said I should keep a secret from you, and all those stuffs,mehn babe you so lucky.""I'm lucky? In what way." She'd asked looking at the bouquet of red roses adorably, smiling and swooning profusely."Girl, you just walked down the streets one day, meet an handsome guy who now loves you like no man's business, and you're asking me why I say you are lucky, oh God when?" Ariel had answered looking up and raising her hands mockingly in an apologetic gesture.